Konsisten di Akademik dan Organisasi, Dhedhe Damar Bedolah Raih Terbaik Ketiga FEB Unila Kategori Diploma

FEB Unila – Dhedhe Damar Bedolah, mahasiswa Program Studi D3 Pemasaran Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila), berhasil meraih predikat Lulusan Terbaik III kategori Diploma pada Yudisium Calon Wisudawan FEB Unila yang berlangsung pada Kamis, 20 Agustus 2026. Pencapaian tersebut menjadi hasil dari proses panjang yang dijalani Dhedhe dengan konsistensi dalam perkuliahan, pengalaman berorganisasi, serta kemauan untuk terus belajar dan mencoba berbagai hal baru selama masa studi.

Menariknya, predikat tersebut bukanlah target yang sejak awal ditetapkan Dhedhe. Sejak memasuki dunia perkuliahan, ia lebih memilih untuk fokus menjalankan tanggung jawab sebagai mahasiswa dengan baik, mulai dari mengikuti perkuliahan, memperhatikan dosen, menjaga kehadiran, mengerjakan tugas tepat waktu, hingga menjaga komunikasi yang baik dengan dosen dan lingkungan kampus.

“Sejujurnya saya gak pernah kepikiran untuk menjadi mahasiswa yang lulus dengan hasil terbaik. Sejak masuk perkuliahan, pemikiran saya yaitu masuk ke kelas, belajar dengan baik, memperhatikan dosen, tidak membuat masalah, tidak bolos, mengikuti pembelajaran dan mengerjakan tugas dengan baik dan tepat waktu,” ujarnya.

Selain fokus pada akademik, Dhedhe juga mulai memperluas pengalamannya melalui kegiatan organisasi. Ia bergabung dengan HMJ Manajemen dan dipercaya menjadi Sekretaris Pelaksana M-Creative 2023 ketika masih berada di semester pertama. Seiring berjalannya waktu, ia kembali dipercaya sebagai CO Bazar M-Expo 2024 dan PJ PDD Open Recruitment HMJ Manajemen 2024. Dhedhe juga terlibat sebagai anggota dalam berbagai kegiatan HMJ Manajemen hingga akhirnya berhenti berorganisasi pada semester enam untuk mempersiapkan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan Tugas Akhir.

Bagi Dhedhe, pengalaman berorganisasi memberikan pembelajaran yang berbeda dari apa yang diperolehnya di ruang kelas. Melalui kegiatan tersebut, ia belajar memahami sudut pandang dan karakter orang lain, membangun komunikasi, bertanggung jawab, menerima konsekuensi, serta terbuka terhadap kritik dan saran.

“Semua yang saya dapatkan dan rasakan bukan 100 persen menyenangkan, melainkan pahit dan gak enak. Tapi itulah yang membuat saya terus semangat mencari hal baru yang positif,” tuturnya.

Lingkungan pertemanan juga menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Dhedhe selama menjalani perkuliahan. Ketika menghadapi kesulitan dalam memahami materi atau harus membagi waktu antara organisasi dan akademik, ia mendapatkan dukungan dari teman-teman dekat dan teman sekelas. Mulai dari berdiskusi, meminta catatan perkuliahan, hingga belajar bersama menjelang UTS dan UAS menjadi cara yang ia lakukan untuk tetap menjaga keseimbangan antara kegiatan organisasi dan akademik.

Kedua orang tuanya, menjadi sosok yang paling berperan dalam memberikan dukungan selama masa studi. Menurut Dhedhe, kedua orang tuanya selalu hadir untuk mendengarkan cerita, memberikan nasihat, serta mendukung berbagai kebutuhan selama ia menempuh pendidikan di FEB Unila. Baginya, menjaga konsistensi akademik juga merupakan bentuk tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan kedua orang tuanya. Ia memandang kesempatan untuk berkuliah sebagai sesuatu yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh dan menjadi bagian dari proses untuk belajar mengambil keputusan secara mandiri.

Dalam proses belajar, Dhedhe mengaku lebih mudah memahami materi melalui pendekatan visual. Ia memanfaatkan platform digital seperti YouTube untuk membantu memahami materi yang belum dikuasai. Jika masih mengalami kesulitan, ia memilih bertanya langsung kepada dosen, berdiskusi dengan teman, kakak tingkat, hingga memanfaatkan teknologi AI sebagai salah satu sumber belajar.

ia membiasakan diri mengerjakan tugas jauh sebelum batas waktu pengumpulan. Menurutnya, pekerjaan tidak harus selalu diselesaikan sekaligus, tetapi dapat dicicil sedikit demi sedikit agar tidak menumpuk dan tetap dapat mengantisipasi berbagai kondisi yang tidak terduga.

“Tidak perlu langsung diselesaikan, tapi selalu usahakan dicicil sedikit demi sedikit, karena konsistensi lebih berpengaruh besar terhadap perubahan di diri sendiri,” katanya.

Perjalanan Dhedhe selama menjadi mahasiswa juga tidak terlepas dari tantangan. Salah satu hal yang cukup ia rasakan adalah proses adaptasi dengan lingkungan perkuliahan yang menurutnya memiliki dinamika berbeda dibandingkan ketika masih menjadi siswa. Individualisme, persaingan, hingga keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sempat membuatnya merasa hampir kehilangan karakter dirinya sendiri.

Pengalaman tersebut justru membuatnya belajar untuk lebih menghargai diri sendiri dan berani menetapkan batasan dalam berinteraksi dengan orang lain. Ia juga belajar bahwa menjadi diri sendiri tidak berarti mengabaikan orang lain, tetapi tetap menghargai orang lain tanpa harus kehilangan prinsip yang dimiliki.

“Intinya, selalu jadi diri sendiri tidak peduli orang-orang menjauhi atau tidak. Dirimu itu istimewa. Kalau mau merubah dirimu, ubahlah ke hal yang baik,” ujarnya.

Dhedhe juga memandang kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Baginya, mahasiswa tidak harus selalu mendapatkan hasil sempurna dalam setiap kesempatan. Hal yang lebih penting adalah berani mencari cara yang benar, belajar dari kesalahan, dan tidak terburu-buru ketika menghadapi sesuatu yang belum dipahami.

Dhedhe berpesan kepada mahasiswa FEB Unila untuk berani mencoba berbagai hal baru tanpa terlalu takut terhadap kegagalan. Menurutnya, kesempatan tidak selalu datang dengan sendirinya sehingga mahasiswa perlu berani mengejar kesempatan tersebut dan keluar dari zona nyaman.

“Jadi diri sendiri, hargai diri sendiri, pasang batasan sehat untuk diri sendiri. Jangan tunggu kesempatan datang, tapi kejar kesempatan itu. Berani coba itu langkah awal keluar dari zona nyaman,” pesannya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk tidak memendam persoalan seorang diri. Menurutnya, setiap orang membutuhkan tempat untuk bercerita ketika menghadapi masa sulit. Namun, pengalaman tersebut sebaiknya dijadikan pembelajaran, bukan alasan untuk berhenti melangkah.

“Jadikan pengalaman itu sebagai pembelajaran, bukan luka atau trauma yang menjadikan alasan untukmu untuk diam di tempat. Beranilah untuk melangkah dan mencoba hal baru walaupun sebelumnya belum pernah atau tidak ada pengalamannya sama sekali,” pungkasnya.

Bagi Dhedhe, pencapaian sebagai Lulusan Terbaik III kategori Diploma bukan semata-mata tentang sebuah predikat. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa konsistensi dalam menjalankan tanggung jawab, keberanian mencoba hal baru, dukungan orang-orang terdekat, serta kemauan untuk terus belajar dapat menjadi bagian penting dalam membentuk perjalanan seorang mahasiswa. (Nissa Nabila)