FEB Unila-Badan Supervisi BI Bahas Pengembangan Ekonomi Lampung

FEB Unila-Badan Supervisi BI Bahas Pengembangan Ekonomi Lampung

FEB Unila | Peran Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) sangat penting dalam pengembangan ekonomi daerah. Bergairahnya ekonomi di daerah salah satunya karena peran BI dalam bekerjasama dengan pemangku kepentingan di daerah tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Paparan tersebut menjadi benang merah dalam Seminar “Peran Tata Kelola Kantor Perwakilan Bank Indonesia dalam Pengembangan Ekonomi di Daerah” yang berlangsung Senin (23/3) kemarin di Aula A1 FEB Unila. Seminar yang dimoderasi oleh Dr. Nairobi, M.Si.  merupakan kerjasama antara Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unila dengan Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan, yang menjadi keynote speaker menjelaskan bahwa BSBI merupakan penugasan dari DPR melalui komisi XI. BSBI berperan men-supervisi BI sebagai lembaga negara penentu moneter dan fiskal, tujuannya agar kinerja lembaga ini  optimal.

Lebih lanjut pria yang baru dilantik 4 bulan lalu itu menyampaikan peran BI dalam pembangunan di daerah. Antara lain, BI mengeluarkan aplikasi SIAPIK untuk membantu usaha mikro dan menengah dalam administrasi keuangan.

Di Lampung BI membentuk kluster-kluster usaha untuk peningkatan perekonomian. BI juga  membentuk Forum Investasi Daerah (FOILA). “Tujuannya antara lain untuk menyediakan informasi potensi daerah, agar investasi bisa meningkat” jelas dia.

BI juga memberikan beasiswa “Generasi Baru Indonesia” bagi mahasiswa, termasuk Unila.  Di kampus hijau ini BI juga telah menyediakan akses informasi BI Corner yang berada di Perpustakaan Unila.

Pemateri selanjutnya Nur Chayati, S.H. menyoroti perlunya penambahan kluster-kluster usaha oleh BI. Anggota Komisi XI DPR RI ini menilai adanya kluster tersebut sangat bermanfaat, jadi diharapkan minimal ada di setiap kabupaten/kota Provinsi Lampung.

Anggota Komisi XI lainnya, Junaedy Auly, mengungkapkan masih tingginya angka kemiskinan Provinsi Lampung dan sebagian besar kabupaten/kota yang di atas rata-rata nasional (10,22 %).  Begitupun dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)  yang rata-rata dibawah IPM nasional (70.81%). Dia berharap BI dan Pemerintah lebih bersinergi untuk pembangunan di Lampung.

Mengenai BSBI, alumni Program S2 MM FEB Unila ini mengungkapkan adanya peluang akademisi Unila menjadi anggotanya. “mudah-mudahan nanti akademisi dari FEB Unila bisa muncul menjadi anggota BSBI ya” cetusnya.

Sementara itu, pemateri Prof. Hikmahanto Juwana selaku anggota BSBI menjelaskan mengenai peran BSBI sebagai partner DPR. BSBI antara lain mengawasi BI dalam hal anggaran, investasi, dan kepatuhan terhadap aturan-aturan.

Pada materi lain, akademisi FEB Unila Dr. Yoke Moelgini M.Sc menekankan perlunya BI juga melakukan penajaman fungsi kantor perwakilan sesuai dengan peran dan tata kelola BI  dalam urusan moneter. Dia juga menilai peran BI dalam penyediaan akses data statistik pembangunan sangat membantu dan dibutuhkan untuk kemajuan bangsa.

Acara yang dibuka resmi oleh Dekan FEB Unila, Prof. Satria bangsawan itu turut dihadiri oleh seluruh anggota BSBI saat yang berjumlah 5 orang. Selain Prof. Hikmahanto, mereka adalah M. Fadhil Hasan (Ekonom Indef), Muhammad Edhie Purnawan (FEB UGM), Prof. Chandra Fajri Ananda (FEB Universitas Brawijaya), dan Prof.  A. Tony Prasetiantono (Pascasarjana Ekonomi GM).

Dalam sambutannya dihadapan sekitar 300 mahasiswa, Dekan mengingatkan berjalannnya revolusi industri generasi ke-empat atau revolusi industri 4.0, menuntut persiapan mahasiswa untuk berdaya saing secara internasional dan dapat bergerak cepat di era digital. “kita harus siap merubah sikap dengan berupaya berdaya saing internasional” pesannya.

Untuk itu, kampus membantu mahasiswa mengasah hard skill dan Soft Skill antara lain melalui seminar nasional/internasional, pengetahuan dari dosen dan praktisi yang berkualitas. Kebiasaan di kampus dengan 3S (senyum, sapa, salam), berprilaku religius harus tetap dilakukan, yang menjadikan mahasiswa tetap berkarakter Indonesia dalam bersaing secara global.

Turut memeriahkan acara, pada sesi penutupan diadakan door prize dan kuis langsung maupun online melalui medsos instagram. Hasilnya, terpilih belasan peserta yang mendapat hadiah flasdisk maupun powebank dari panitia. (dedi)